Bantara [2]
Senin.
Entah mendapat dorongan dari mana. Yang kutahu, map merah berbahan kertas itu telah menghuni ruang dalam tasku dengan apiknya. Map merah dengan selembar kertas putih di dalamnya.
Bukan hanya sembarang kertas putih. Melainkan formulir. Ya, formulir pendaftaran bantara. Bahkan telah lengkap dengan pas fotoku, berlatar kuning dan ber-uniform lengkap khas ambalan. Topi boni, setangan leher, dan tanpa tanda apapun kecuali lambang gudep, lambang pangkalan sekolah, dan sebaris nama di dada bagian kanan.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, di dalam angkutan umum tempat orang-orang berdesakan -berebut oksigen dan berbagai hal di benak masing-masing, aku dilanda hal serupa demam panggung. Apa-apaan ini?
Degup jantungku membuatku seakan sesak nafas. Bodohnya! Aku menjerit-jerit dalam hati. Oke, gak usah dikumpul aja! Formulirnya ntar tinggal sobek terus buang deh ke tempat sampah. Gak bakalan lulus, gak ada harapan buat lo!
Aku tersenyum kaku, melihat ke arah jendela kecil di dalam angkot. Berharap udara segar selain aroma keringat bercampur parfum murahan yang menusuk liar hidungku. Iya, gak usah ikutan aja kali ya.. Gak bakat sih!
Iya, benar.
...
"Ngumpulin formulir pendaftaran di mana ya?"
"Bawa langsung aja ke mabes dewan."
Tidak, formulir itu tidak kukumpulkan jua hingga jam sekolah berakhir. Namun, tidak juga sobek dan menghuni dasar tong sampah. Formulir itu masih berada dalam map merah berbahan kertas, apik mengisi ruang dalam tasku dengan posisi yang tak berubah dari pertama kali aku memasukkannya.
Entah.
Aku merasa gamang.
.
.
.
"Nitip formulir gw ya! Gw ada perlu, mesti pulang sekarang!"
Setelah mendekam 2 hari dalam ranselku. Map merah itu malah berakhir di tangan temanku. Hari ini, tepat sehari sebelum pengumpulan terakhir formulir pendaftaran bantara itu. Lelah dengan pemikiran yang maju-mundur, kupilih untuk pasrah saja. Lulus-bersyukur, tidak lulus-tak apa. Isi kepalaku rasanya hangus sudah. Berbagai kemungkinan yang mengisinya telah habis terbakar. Meninggalkan semacam "bodo' amat" yang menggema-gema dalam telingaku.
Aku ingin pulang. Tidur.
...
"Nih, formulir lu!"
"Kenapa?"
"Kumpul sendiri katanya."
"Hah?!"
Kulirik jam di HP-ku. Tepat pukul satu, di hari terakhir pengumpulan formulir. Dan 3 jam dari sekarang adalah batas akhirnya, pendaftaran ditutup.
Aku panik. Bergegas ke mabes dewan.
Namun, ruangan itu tampak kosong. Aku kembali ke tempatku semula.
Menunggu.
Berjalan ke mabes dewan. Kosong
Menunggu.
Mabes dewan. Kosong.
"Kayanya kode keras nih buat gak sok-sok'an daftar," gumamku seorang diri. Hampir 2 jam, waktuku habis sia-sia. Di tengah batinku yang mulai meracaukan kalimat-kalimat 'menyerah', seorang yang familiar lewat begitu saja.
Memasuki mabes dewan yang tak jauh dari tempatku duduk.
"Woi, itu kakak dewan udah ada!"
Teman yang duduk tak jauh dariku segera ke arah salah satu anggota dewan berambut sebahu dan berkacamata itu. Sedang aku masih di tempatku, bertopang dagu dengan racauan yang sama, 'menyerah~ menyerah saja lah~ udah hampir habis waktunya, menyerah~'
"Ngapain lo masih di sini?!"
Tring..
Aku berlari begitu saja ke arah mabes. Menghiraukan beberapa pasang mata yang kaget melihatku yang tadinya tampak tenang kini malah lari tunggang langgang seperti itu.
"Kak, permisi, mau ngumpulin formulir, Kak!"
"Udah lengkap? Udah ada foto?"
"Iya, Kak."
Map merahku berpindah tangan. Aku berbalik, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, memenuhi paru-paruku yang seakan kosong.
"Selesai."
Aku memasang wajah datar. Lulus-bersyukur, tidak lulus-tak apa. Ya, seperti itu!
"Ngomong-ngomong, yang ngajak gw ngomong tadi siapa? Perasaan si Anu udah lari duluan ke mabes deh? Jangan-jangan.."
Mataku membulat.
Lalu menyipit.
Dan berakhir dengan sorot datar.
"Bodo amat deh! Yang penting udah ngumpul formulir."
Aku melenggang pergi.
Entah mendapat dorongan dari mana. Yang kutahu, map merah berbahan kertas itu telah menghuni ruang dalam tasku dengan apiknya. Map merah dengan selembar kertas putih di dalamnya.
Bukan hanya sembarang kertas putih. Melainkan formulir. Ya, formulir pendaftaran bantara. Bahkan telah lengkap dengan pas fotoku, berlatar kuning dan ber-uniform lengkap khas ambalan. Topi boni, setangan leher, dan tanpa tanda apapun kecuali lambang gudep, lambang pangkalan sekolah, dan sebaris nama di dada bagian kanan.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, di dalam angkutan umum tempat orang-orang berdesakan -berebut oksigen dan berbagai hal di benak masing-masing, aku dilanda hal serupa demam panggung. Apa-apaan ini?
Degup jantungku membuatku seakan sesak nafas. Bodohnya! Aku menjerit-jerit dalam hati. Oke, gak usah dikumpul aja! Formulirnya ntar tinggal sobek terus buang deh ke tempat sampah. Gak bakalan lulus, gak ada harapan buat lo!
Aku tersenyum kaku, melihat ke arah jendela kecil di dalam angkot. Berharap udara segar selain aroma keringat bercampur parfum murahan yang menusuk liar hidungku. Iya, gak usah ikutan aja kali ya.. Gak bakat sih!
Iya, benar.
...
"Ngumpulin formulir pendaftaran di mana ya?"
"Bawa langsung aja ke mabes dewan."
Tidak, formulir itu tidak kukumpulkan jua hingga jam sekolah berakhir. Namun, tidak juga sobek dan menghuni dasar tong sampah. Formulir itu masih berada dalam map merah berbahan kertas, apik mengisi ruang dalam tasku dengan posisi yang tak berubah dari pertama kali aku memasukkannya.
Entah.
Aku merasa gamang.
.
.
.
"Nitip formulir gw ya! Gw ada perlu, mesti pulang sekarang!"
Setelah mendekam 2 hari dalam ranselku. Map merah itu malah berakhir di tangan temanku. Hari ini, tepat sehari sebelum pengumpulan terakhir formulir pendaftaran bantara itu. Lelah dengan pemikiran yang maju-mundur, kupilih untuk pasrah saja. Lulus-bersyukur, tidak lulus-tak apa. Isi kepalaku rasanya hangus sudah. Berbagai kemungkinan yang mengisinya telah habis terbakar. Meninggalkan semacam "bodo' amat" yang menggema-gema dalam telingaku.
Aku ingin pulang. Tidur.
...
"Nih, formulir lu!"
"Kenapa?"
"Kumpul sendiri katanya."
"Hah?!"
Kulirik jam di HP-ku. Tepat pukul satu, di hari terakhir pengumpulan formulir. Dan 3 jam dari sekarang adalah batas akhirnya, pendaftaran ditutup.
Aku panik. Bergegas ke mabes dewan.
Namun, ruangan itu tampak kosong. Aku kembali ke tempatku semula.
Menunggu.
Berjalan ke mabes dewan. Kosong
Menunggu.
Mabes dewan. Kosong.
"Kayanya kode keras nih buat gak sok-sok'an daftar," gumamku seorang diri. Hampir 2 jam, waktuku habis sia-sia. Di tengah batinku yang mulai meracaukan kalimat-kalimat 'menyerah', seorang yang familiar lewat begitu saja.
Memasuki mabes dewan yang tak jauh dari tempatku duduk.
"Woi, itu kakak dewan udah ada!"
Teman yang duduk tak jauh dariku segera ke arah salah satu anggota dewan berambut sebahu dan berkacamata itu. Sedang aku masih di tempatku, bertopang dagu dengan racauan yang sama, 'menyerah~ menyerah saja lah~ udah hampir habis waktunya, menyerah~'
"Ngapain lo masih di sini?!"
Tring..
Aku berlari begitu saja ke arah mabes. Menghiraukan beberapa pasang mata yang kaget melihatku yang tadinya tampak tenang kini malah lari tunggang langgang seperti itu.
"Kak, permisi, mau ngumpulin formulir, Kak!"
"Udah lengkap? Udah ada foto?"
"Iya, Kak."
Map merahku berpindah tangan. Aku berbalik, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, memenuhi paru-paruku yang seakan kosong.
"Selesai."
Aku memasang wajah datar. Lulus-bersyukur, tidak lulus-tak apa. Ya, seperti itu!
"Ngomong-ngomong, yang ngajak gw ngomong tadi siapa? Perasaan si Anu udah lari duluan ke mabes deh? Jangan-jangan.."
Mataku membulat.
Lalu menyipit.
Dan berakhir dengan sorot datar.
"Bodo amat deh! Yang penting udah ngumpul formulir."
Aku melenggang pergi.

Komentar
Posting Komentar