Bantara [1]
Aku tersenyum, terlihat manis namun sungguh rasanya getir. Melihat selembar kertas putih dengan sederet tulisan tempat mataku terpaku, seakan melihat angan mengambang yang tak berujung. Apa ini?
Sebuah pengumuman pendaftaran anggota "Bantara" baru. Tidak terlalu menarik bagi sebagian orang, namun menggetarkan untukku.
Seorang teman menyenggol bahuku, "Mau ikutan daftar?" dan aku hanya tersenyum bisu.
Namun jauh di dalam benakku. Tentu. Tentu saja aku ingin menjadi salah satu dari anggota Bantara baru itu. Ingin.
Aku tertawa dalam hati. "Yang rasional dong! Gak pernah ikut pramuka, gak tau apa-apa tentang pramuka, mau sok-sok'an daftar Bantara segala. Mikir dong! Nanti udah capek-capek ikut sana-sini ujung-ujungnya gak lulus. Inget pas ikut tes Remasih? Percaya diri sekali karena kamu dari sekolah agama, tapi ujung-ujungnya gagal juga! Lagian kamu, latihan baris-berbaris aja dikeluarin dari barisan. Itu karena kamu gak tau apa-apa! Dasa dharma juga gak lancar, gak tau sejarah pramuka. Apa yang bisa kamu jadikan modal buat daftar? Heh, rasional dong," pikiranku meronta. Benar, aku tak memiliki apapun.
"Gak tau", hanya itu yang dapat kukatakan kala temanku tadi kembali menyenggol lenganku karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaannya. "Apaan sih? Ditanya cuman senyam-senyum ambigu?" dumelnya. Aku tertawa kecil, "Kayanya pengen jadi sipil aja".
Sungguh, saat itu aku ingin menangis.
Aku tak memiliki apapun.
"Mau ke kantin? Lapar Hayati~"
Kuseret lengan temanku, hal semacam itu, yang membuatku sedih (akan sedih, tepatnya) lebih baik kuhindari. Lebih baik untuk dilupakan. Aku pengecut untuk diriku, memang! Aku selalu menghindari segala hal yang akan membuatku sakit hati.
Karena seumur hidup aku hidup dengan keyakinan semacam itu.
Dan sulit untuk tak terbiasa.
Aku memutuskan untuk tak memikirkan perekrutan itu lagi.
Selesai sampai disini bahkan sebelum aku mencoba.
...
Kok Chao jadi syedih sih? *plakk! Alay*
Sekian, Ppai~ Ppai~
-Chao-
Sebuah pengumuman pendaftaran anggota "Bantara" baru. Tidak terlalu menarik bagi sebagian orang, namun menggetarkan untukku.
Seorang teman menyenggol bahuku, "Mau ikutan daftar?" dan aku hanya tersenyum bisu.
Namun jauh di dalam benakku. Tentu. Tentu saja aku ingin menjadi salah satu dari anggota Bantara baru itu. Ingin.
Aku tertawa dalam hati. "Yang rasional dong! Gak pernah ikut pramuka, gak tau apa-apa tentang pramuka, mau sok-sok'an daftar Bantara segala. Mikir dong! Nanti udah capek-capek ikut sana-sini ujung-ujungnya gak lulus. Inget pas ikut tes Remasih? Percaya diri sekali karena kamu dari sekolah agama, tapi ujung-ujungnya gagal juga! Lagian kamu, latihan baris-berbaris aja dikeluarin dari barisan. Itu karena kamu gak tau apa-apa! Dasa dharma juga gak lancar, gak tau sejarah pramuka. Apa yang bisa kamu jadikan modal buat daftar? Heh, rasional dong," pikiranku meronta. Benar, aku tak memiliki apapun.
"Gak tau", hanya itu yang dapat kukatakan kala temanku tadi kembali menyenggol lenganku karena hanya tersenyum saat menjawab pertanyaannya. "Apaan sih? Ditanya cuman senyam-senyum ambigu?" dumelnya. Aku tertawa kecil, "Kayanya pengen jadi sipil aja".
Sungguh, saat itu aku ingin menangis.
Aku tak memiliki apapun.
"Mau ke kantin? Lapar Hayati~"
Kuseret lengan temanku, hal semacam itu, yang membuatku sedih (akan sedih, tepatnya) lebih baik kuhindari. Lebih baik untuk dilupakan. Aku pengecut untuk diriku, memang! Aku selalu menghindari segala hal yang akan membuatku sakit hati.
Karena seumur hidup aku hidup dengan keyakinan semacam itu.
Dan sulit untuk tak terbiasa.
Aku memutuskan untuk tak memikirkan perekrutan itu lagi.
Selesai sampai disini bahkan sebelum aku mencoba.
...
Kok Chao jadi syedih sih? *plakk! Alay*
Sekian, Ppai~ Ppai~
-Chao-

Komentar
Posting Komentar